Kampus Menjamur, Dampak Ekonomi Tertinggal: Saatnya Indonesia Beralih ke Entrepreneur University

TRENAKSARA.COM, Bandung — Indonesia saat ini memiliki lebih dari 4.000 perguruan tinggi, sebuah angka yang secara kuantitatif terlihat impresif. Namun di balik pertumbuhan jumlah kampus tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana perguruan tinggi benar-benar memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional?

Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa hanya sekitar 5 persen perguruan tinggi di Indonesia yang mendekati kriteria universitas riset. Selebihnya masih berfungsi sebagai teaching university, yakni berfokus pada proses mengajar, meluluskan mahasiswa, lalu selesai. Pada saat yang sama, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat pengangguran terdidik masih relatif tinggi, dengan lulusan perguruan tinggi menjadi salah satu penyumbang pengangguran terbuka.

Kondisi ini menimbulkan paradoks. Kampus tumbuh subur di berbagai daerah, tetapi pertumbuhan lapangan kerja tidak berjalan seiring. Masalah ini bukan semata-mata terletak pada kualitas lulusan, melainkan pada model perguruan tinggi yang belum sepenuhnya selaras dengan struktur ekonomi Indonesia.

Indonesia bukan negara dengan basis industri berat atau teknologi tinggi seperti Jepang atau Jerman. Struktur ekonomi nasional justru ditopang oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mencapai lebih dari 97 persen unit usaha dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Namun ironisnya, sebagian besar perguruan tinggi masih lebih berorientasi mencetak pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja.

Selama ini, arah transformasi pendidikan tinggi kerap difokuskan pada upaya menjadikan kampus sebagai research university. Secara akademik, orientasi ini ideal dan penting. Namun secara ekonomi nasional, pendekatan tersebut tergolong mahal, lambat, dan cenderung elitis jika diterapkan secara masif. Tidak sedikit hasil riset yang berhenti pada publikasi jurnal ilmiah tanpa hilirisasi, tidak terhubung dengan industri, dan jauh dari kebutuhan UMKM.

Publikasi ilmiah meningkat, tetapi produktivitas ekonomi masyarakat tetap stagnan. Riset yang tidak diikuti proses hilirisasi pada akhirnya hanya menjadi pengetahuan yang “parkir” di rak perpustakaan.

Dalam konteks ini, Indonesia sesungguhnya membutuhkan arah transformasi yang berbeda, yakni penguatan model entrepreneur university. Entrepreneur university bukanlah kampus yang mengkomersialkan seluruh aktivitas akademik, melainkan perguruan tinggi yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai mesin pencipta nilai ekonomi dan sosial.

Riset tetap menjadi fondasi, namun riset harus berujung pada inovasi terapan, produk bernilai tambah, usaha baru, dan penciptaan lapangan kerja. Model ini dinilai jauh lebih relevan dengan tantangan Indonesia saat ini, mulai dari bonus demografi yang menuntut penciptaan lapangan kerja secara cepat, rendahnya produktivitas UMKM, ketimpangan ekonomi antarwilayah, hingga keterbatasan kapasitas industri besar dalam menyerap lulusan baru setiap tahun.

Perguruan tinggi yang berorientasi kewirausahaan akan menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai jantung aktivitas akademik, bukan sekadar formalitas laporan. Desa, petani, nelayan, koperasi, dan pelaku UMKM menjadi living laboratory tempat mahasiswa belajar sekaligus membangun usaha nyata. Kampus tidak lagi hadir hanya membawa spanduk kegiatan, tetapi meninggalkan peningkatan pendapatan, keterampilan, dan kapasitas usaha masyarakat.

Dampaknya pun berpotensi signifikan. Jika satu perguruan tinggi mampu melahirkan 50 hingga 100 wirausaha tangguh setiap tahun, maka kontribusinya terhadap perekonomian lokal akan jauh lebih besar dibandingkan ratusan skripsi yang hanya tersimpan di perpustakaan. Bayangkan apabila 1.000 kampus di Indonesia melakukan hal yang sama, maka akan lahir sebuah mesin ekonomi baru yang menggerakkan pertumbuhan dari akar rumput.

Transformasi menuju entrepreneur university bukan berarti Indonesia tidak membutuhkan universitas riset. Sebaliknya, Indonesia tetap memerlukan sejumlah universitas riset unggulan yang kuat dan fokus sebagai tulang punggung pengembangan sains, teknologi tinggi, serta kebijakan strategis nasional. Namun menjadikan seluruh perguruan tinggi sebagai research university adalah sebuah ilusi yang mahal dan tidak realistis.

Yang dibutuhkan adalah stratifikasi perguruan tinggi yang lebih rasional dan kontekstual, di mana universitas riset berjumlah terbatas namun berkualitas tinggi, sementara mayoritas perguruan tinggi berperan sebagai entrepreneur university berbasis riset terapan. Pada akhirnya, seluruh kampus, tanpa kecuali, harus diukur dari dampak nyatanya bagi masyarakat.

Sudah saatnya perguruan tinggi berhenti berbangga pada jumlah publikasi semata, dan mulai dinilai dari berapa usaha yang lahir, berapa tenaga kerja yang tercipta, serta sejauh mana ekonomi lokal bergerak. Karena bagi Indonesia hari ini, kampus yang hebat bukanlah yang paling tinggi menaranya, melainkan yang paling terasa manfaatnya di pasar, di desa, dan di kehidupan masyarakat.

Penulis:
Prof. Dr. Nandan Limakrisna
Akademisi dan pemerhati transformasi perguruan tinggi dan kewirausahaan
Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *