TRENAKSARA.COM, JAKARTA, 21 Februari 2026 — Sastrawan dan esais publik Denny JA mempersembahkan karya terbaru bertajuk Atas Nama Bencana, sebuah buku puisi esai yang dipadukan dengan lebih dari dua puluh lukisan bertema tragedi ekologis dan kemanusiaan di Sumatra sepanjang 2025–2026. Buku ini diterbitkan oleh Cerah Budaya International dan menjadi refleksi mendalam atas hubungan antara manusia, kebijakan publik, korporasi, serta alam yang kian rapuh.
Buku ini lahir dari satu pertanyaan moral: berapa banyak air mata harus jatuh sebelum penyebab bencana—yang kerap berhubungan dengan keputusan tata ruang, deforestasi, dan ekspansi industri—benar-benar dihentikan?
Melalui dua belas puisi esai, Atas Nama Bencana menghadirkan potret manusia biasa dalam pusaran tragedi. Seorang ayah berjalan delapan puluh kilometer menembus banjir dan longsor demi mencari keluarganya. Seorang ibu menjadikan pelukannya sebagai bendungan terakhir melawan arus. Seorang guru menempuh ratusan kilometer dengan lapar demi menemukan jenazah ibunya. Di hutan Batang Toru, belasan orang utan mati dalam sunyi—tanpa siaran pers, tanpa upacara.
Berbeda dari laporan jurnalistik yang berhenti pada angka, buku ini memberi wajah dan suara pada statistik. Fakta menjadi akar, sementara dramatikasi puitik menghadirkan daging dan darah pada setiap peristiwa. Puisi esai yang digunakan sebagai bentuk ekspresi memadukan data aktual, referensi kejadian nyata, serta pendekatan lirika yang tetap setia pada konteks sosial.
Gerakan puisi esai yang diperkenalkan Denny JA telah berkembang lintas negara. Festival Puisi Esai ASEAN memasuki edisi kelima pada 2026, dan inovasi sastra berbasis realitas sosial ini juga mendapat sorotan dalam forum BRICS tahun yang sama. Dalam puisi esai, penyair tidak sekadar merangkai metafora, tetapi juga menjadi saksi zaman.
Keunikan buku ini terletak pada tiga kekuatan utama:
Pertama, narasi manusia biasa sebagai pusat moral. Tokoh-tokohnya bukan pejabat atau ahli, melainkan ayah, ibu, guru, dan pengungsi—mereka yang hidupnya terhantam langsung oleh bencana. Moralitas hadir bukan sebagai khotbah, tetapi sebagai denyut yang terasa intim dan manusiawi.
Kedua, perpaduan fakta dan fiksi dramatis. Setiap puisi berakar pada peristiwa nyata, namun diperdalam dengan imajinasi yang menggali rasa bersalah, kehilangan, dan pertanyaan etis yang tak sempat terucap.
Ketiga, kehadiran lukisan sebagai resonansi emosi. Visualisasi anak di pusaran air, tunggul hutan yang tak berujung, hingga bangkai orang utan di lantai hutan, memperlambat pembaca untuk berhenti dan menyaksikan, bukan sekadar membaca.
Buku ini juga menyuarakan kritik terhadap deforestasi sistematis, alih fungsi lahan, ekspansi sawit, tata kelola sungai yang abai, serta pembangunan infrastruktur yang tidak adaptif terhadap perubahan iklim. Bencana, dalam perspektif buku ini, bukan semata peristiwa alam, melainkan konsekuensi dari keputusan kolektif yang dibiarkan berlangsung.
Sebagai perbandingan, buku ini menempatkan dirinya dalam percakapan global dengan karya seperti Field Work karya Seamus Heaney. Jika Heaney merefleksikan lanskap Irlandia sebagai ruang moral yang menyimpan luka sejarah, maka Atas Nama Bencana berdiri di atas kejadian konkret yang masih hangat—menyebut kilometer, korban, dan tanggal, sembari menghubungkannya dengan sebab-akibat kebijakan publik.
“Atas nama bencana,” tulis Denny JA, “buku ini berbicara bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengingatkan: tanah yang tak kita jaga akan berhenti menjaga kita.”
Melalui perkawinan estetika dan etika, buku ini mengubah duka menjadi daya—bukan sekadar nisan bagi yang hilang, melainkan kompas nurani agar masyarakat berhenti memunggungi alam sebelum segalanya karam dalam sunyi.
Informasi lebih lanjut dan ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, ekonomi politik, sastra, agama dan spiritualitas, energi, demokrasi, sejarah, hingga ulasan buku dan film dapat diakses melalui laman Facebook Denny JA’s World.
-000-
